Saya=Aku

Dalam pelajaran bahasa Indonesia telah kita ketahui bahwa aku dan saya mempunyai makna yang sama, aku adalah kata ganti(pronoun) dari kata saya. Karena kesamaan itu maka kebanyakan dari kita mengabaikan penggunaan kedua kata tersebut. Banyak dari kita mencampur-adukkan penggunaan kata aku dan saya dalam suatu tulisan(postingan,cerpen dan novel) yang mengakibatkan tulisan menjadi aneh untuk dibaca.

Namun berbeda dengan teman saya sekaligus pak Kyai baru di Tanah Suci para Warok yaitu K. Dawam Multazam, dalam menulis beliau sangat konsisten dengan satu kata ganti subyek yaitu “saya“. Menurut beliau gaya penulisan yang menggunakan kata ganti subyek “saya” menunjukkan bahwa sebuah tulisan bersifat formal dan resmi sehingga enak untuk dibaca.

Di samping itu, tidak mencampur adukkan kata “aku” dan “saya” dalam satu tulisan memperlihatkan kualitas suatu tulisan. Jika suatu tulisan menggunakan dua kata yang maknanya sama akan tetapi mempunyai fungsi berbeda, maka tulisan itu akan terasa aneh ketika di baca.
Seperti contoh di bawah ini:

“Hampir terlupakan olehku, Pletuk sebuah tempat wisata yang berada di dusun Kranggan, Jurug kec. Sooko – Ponorogo. Kawasan wisata itu terakhir kali saya kunjungi satu tahun yang lalu bersama kawan-kawan pecinta alam. Satu tahun berlalu Pletuk yang dulu masih Perawan kini telah menjelma menjadi tempat yang begitu indah.”

Bagaimana perasaan kita ketika membacanya? diakui ataupun tidak kita akan merasakan adanya sebuah kejanggalan dalam bacaan ini sehingga mengakibatkan ketidaknyamanan dalam membaca. Ketidaknyamanan itu diakibatkan karena ketidak konsistenan sang penulis dalam penggunaan kata ganti subyek.

Kekonsitenan beliau rupanya tidak berbuah sia-sia. Terbukti dengan dinobatkannya beliau sebagai pemenang ketiga lomba mereview karya tulis(cerpen) Pak Sawali(seorang guru sastra dan juga seorang blogger ternama) dalam rangka HUT ke-1 blog sawali.info. Dan dengan tulisannya beliau akan terus berbagi karena menurut beliau Ngeblog Adalah Berbagi :-)

You can leave a response, or trackback from your own site.

42 Responses to “Saya=Aku”

  1. dita_disini says:

    ooo gitu yah… aku masih suka campur aduk tuh… mohon ampuni saya… :p

    dita_disini’s last blog post..Yellow Fawn

    [Reply]

  2. dafhy says:

    @dita_disini, itu hanya pendapat saya mbak :) jadi silahkan menggunakan bahasa yang mungkin nyaman dengan anda

    [Reply]

    dafhy Reply:

    @JAUHDIMATA, pletuk terletak di dusun Kranggan, Jurug kec. Sooko – Ponorogo jeruk sing ke timur om

    [Reply]

    dafhy Reply:

    @meylya, menurut EYD sama mbak tapi berbeda penggunaannya saja :)

    [Reply]

  3. JAUHDIMATA says:

    pletuk wi daerah endi to
    “halah kok malah takon pletuk”

    JAUHDIMATA’s last blog post..SBYberBudi Tidak Berumur Panjang

    [Reply]

  4. alief says:

    lok aku manut ajah dah…..

    [Reply]

  5. meylya says:

    menurutku aku atau saya sama ajalah mas

    meylya’s last blog post..Nyanyian Negeri

    [Reply]

    dafhy Reply:

    @denologis, ow begitu ya? berrarti kekonsistenan dalam penggunaan yang teapt dengan tempatnya pak guru?

    [Reply]

  6. suryaden says:

    semoga bisa ditularkan dengan baik, tapi memang banyak juga yang pandangannya berlainan

    [Reply]

    dafhy Reply:

    @LuXsmaN, kamyu

    [Reply]

  7. denologis says:

    Menurut beliau gaya penulisan yang menggunakan kata ganti subyek “saya” menunjukkan bahwa sebuah tulisan bersifat formal dan resmi sehingga enak untuk dibaca

    yah, meskipun lebih formal, tapi saya ndak membidik pada formalitas dan resmilitasnya lho Dafh. Saya memakai “SAYA” pada umumnya, dan “AKU” pada khususnya. Yang terpenting adalah konsistensi penggunaannya harus menyesuaikan tempat. :)

    **nggoleki Blogger Nasional sing nggarai populer kekyaian** (idiot)
    denologis’s last blog post..Pesan Deklarasi Capres-Cawapres

    [Reply]

    dafhy Reply:

    @Andy MSE, kesamaan dua kata itu sudah dari sononya pakde jadi ya sampai nantipun akan tetap sama artinya

    [Reply]

  8. LuXsmaN says:

    AQ

    [Reply]

    dafhy Reply:

    @sawali tuhusetya, iya pak hal itu yang ingin saya jelaskna di sini :)
    K Dawam Multazam itu mas denologis pak :)

    [Reply]

  9. Andy MSE says:

    konsisten iya, tapi saya tetep saja sama dengan aku…
    betul = benar… kebetulan = kebenaran??

    Andy MSE’s last blog post..Kyai Slamet Dolan Ke Solo

    [Reply]

    dafhy Reply:

    @cah ndeso, kapan?

    [Reply]

  10. ah, pernyataan mas dafhy memang benar. kata aku dan saya memang bersinonim, tetapi kedua kata ini memiliki nilai rasa yang berbeda. aku sering digunakan utk ragam santai, sedangkan saya utk ragam resmi alias formal. btw, K. Dawam Multazam itu ternyata mas deno, yak, hehe … baru tahu saya, haks.

    sawali tuhusetya’s last blog post..Kita Hidup di Tengah Peradaban Horor?

    [Reply]

    dafhy Reply:

    @olip, dan itu adalah hak anda (blush)

    [Reply]

  11. cah ndeso says:

    wes eroh

    [Reply]

    dafhy Reply:

    @Rindu, iya mbak mungkin saya juga bisa digunakan untuk merendahkan diri sang penulis :)

    [Reply]

    dafhy Reply:

    @galuharya, setuju. yang saya maksud dalam postingan ini adalah Saya memakai “SAYA” pada umumnya, dan “AKU” pada khususnya. Yang terpenting adalah konsistensi penggunaannya harus menyesuaikan tempat (scenic)

    [Reply]

  12. olip says:

    kadang aku … kadang juga saya …

    olip’s last blog post..Musik ku

    [Reply]

    dafhy Reply:

    @deeedeee, wah gaya bahsa sampean unik nu mbak (LOL)

    [Reply]

  13. Rindu says:

    Saya lebih sederhana daripada “Aku” yang terkesan menggurui gitu … :)

    Rindu’s last blog post..ALLAH, The Invisible Hands

    [Reply]

    dafhy Reply:

    @ridu, saya juga belum terlalu bisa menggunakan bahas Indonesia dengan benar om. hanya sedang belajar saja :-)

    [Reply]

  14. deeedeee says:

    dulu saya pake “gw”, terus berlanjut ke “aku” sekarang keasikan pake kata “saya” :mrgreen:

    deeedeee’s last blog post..Faktor U atau Keturunan

    [Reply]

  15. ridu says:

    wah,, bahasa indonesia saya nilainya palign kecil =_=’

    jadi kalo saya nulis sekenanya aja.. jadi gak bagus deh kualitas tulisan saya =_=’

    maafin ya pak guruuu

    ridu’s last blog post..Dunia Dalam Televisi

    [Reply]

  16. Heeem… saya mencampuradukkan penggunaan tersebut. Tapi dengan tujuan tertentu.
    Ketika saya bercerita saya menggunakan kata “aku”, agar pembaca ikut terbawa arus cerita. Namun ketika cerita tersebut sudah selesai dan saya ingin mengemukakan pendapat saya, maka menggunakan kata saya. Jadi pembaca dapat membedakan yang mana yg cerita yg mana yg sudah menjadi ranah opini

    Salam,

    EKA :)

    [Reply]

  17. edi petruk says:

    ngunu yo aleh,,!
    baru tahu.,,

    [Reply]

  18. DETEKSI says:

    ngeblog dengan gaya bahasa masing2.. terserah saja..

    [Reply]

  19. inal says:

    setuju! berbagi untuk negeri, hehehehhe, nice blog anyway… :)

    inal’s last blog post..Kerja di LSM? WTF!?

    [Reply]

  20. ceznez says:

    klo tulisannya formaal.. akan lebih memudahkan orang luar yang membacanya dgn trnslator mas… :)

    [Reply]

  21. senoaji says:

    konsistensi memang berat dalam menulis, mungkin dalam satu paragraf saja inkonsistensi ada apalagi kalo berlembar halaman, bweh! mdrcct dungs! mwekmwekmwek

    salam nggo Kyai Dawam <—- haram ora WAKAKKAkKAKAKK!! mdr cct

    senoaji’s last blog post..Relaksasi

    [Reply]

  22. galuharya says:

    memang benar sekali yg saampean ulas disini mas dafhy
    akan tetapi blog adalah media untuk berekspresi jadi penggunaan kata atau kalimat sepertinya itu merupakan hak preogratif sang penulis

    bukan begitu ?

    galuharya’s last blog post..Saat Terakhir

    [Reply]

  23. Ade says:

    hehehehe saya banget tuh, suka nyampur2 antara saya dan aku dalam satu postingan :-D
    Ade’s last blog post..The Climb

    [Reply]

  24. mami vaya says:

    Bener sekali. Itu sebabnya saya punya beberapa blog tp satunya pake “saya” satu lagi pake “aku” ….

    mami vaya’s last blog post..Iseng atau memang Klepto?

    [Reply]

  25. Aris says:

    wah, betul ini… bahkan saya juga sering mengabaikan hal ini. matur suwun….

    Aris’s last blog post..Kesehatan yang Mahal, atau Dokter yang tidak Profesional ?

    [Reply]

  26. Julie says:

    The educational post assited me very much! Saved the website, very interesting topics just about everywhere that I read here! I like the info, thanks.

    [Reply]

  27. dafhy says:

    @gajah_pesing, menurut EYD itu salah om :)

    [Reply]

    dafhy Reply:

    @alief, manut ngapain om?

    [Reply]

    dafhy Reply:

    @suryaden, Amin. setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda om :)

    [Reply]

Leave a Reply

Designed by NSJ