Besok tepatnya tanggal 18 April 2011 adalah sebuah hari yang sangat mendebarkan bagi semua siswa kelas XII SMA/MA maupun SMK. Besok adalah awal perjuangan bagi mereka untuk bisa lulus dari bangku SMA/MA maupun SMK. 3 atau 4 hari yang pastinya sangat menguras otak dan juga menentukan kelulusan mereka selama belajar di bangku sekolah selama 3 tahun.
Sejak pertama kali dicetuskan, UN menjadi kontroversi besar. Hasil belajar selama 3 tahun hanya ditentukan oleh perjuangan selama 3 hari bagi SMK dan 4 hari bagi SMA/MA menjadi masalah yang selalu dibahas. Selain itu sistem pencocokan jawaban yang menggunakan komputer yang memaksakan siswa harus teliti menghitamkan bulatan pada lembar jawaban menjadi kendala yang sangat terasa ketika UN. Dan masih banyak lagi alasan-alasan lain yang menyebabkan masalah UN ini menjadi kontroversi.
Disetiap tahunnya, ada beberapa perubahan peraturan yang mendampingi proses UN ini. Mulai naiknya nilai standar kelulusan, jumlah mata pelajaran yang diujikan, dan yang terakhir ini adalah aspek apa saja yang mempengaruhi sistem kelulusan. Tahun ini yang diangkat dalam aspek apa saja yang mempengaruhi sistem kelulusan adalah nilai raport dari kelas 1 menjadi pertimbangan sebuah kelulusan.
Peraturan tahun ini yang tertulis bahwa nilai raport dari kelas 1 menjadi pertimbangan sebuah kelulusan sepertinya membantu kelulusan siswa dalam UN ini. Namun peraturan ini akan memberatkan ketika nilai raport siswa dari kelas 1 agak di bawah standar.
Terlepas dari sistem UN yang selalu berubah di setiap tahunnya, mari kita menengok para siswa kelas XII yang menjadi pelaku pada UN ini. Beberapa hari ini dari situs jejaring sosial facebook dan juga twitter saya sering membaca status yang agak miris, beberapa siswa merasa stress menghadapi UN ini karena terasa sangat berartnya. Ada yang bilang mereka terdhalimi karena UN ini dan lain sebagainya.
Masih teringat tahun lalu, beberapa siswa mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri akibat stress karena UN, dan juga karena tidak lulus UN. UN memang menjadi momok yang sangat menakutkan bagi sebagian siswa kelas XII, apalagi bagi siswa yang bersekolah di pelosok. Pemerintah sepertinya tutup mata dengan semua ini.
Bagi saya keberadaan UN memang sangat menjadi momok bagi siswa, guru maupun sekolah. Siswa merasa katakutan jika tidak lulus. Jika tidak lulus, maka akan akan dimarahi orang tua, akan diejek oleh teman-temannya dan masa depannya akan suram karena pintu untuk masuk ke dunia kampus apalagi kampus negeri sudah tertutup. Bagi guru, UN menjadi momok karena dari situlah kredibilitas seorang guru dipertaruhkan, ya walau ketidak lulusan UN tidak semua karena ketidak pahaman siswa terhadap pelajaran. Jika banyak siswa yang tidak lulus, maka guru pastinya akan dimarahi oleh kepala sekolah. Bagi sekolah, UN menjadi momok karena jika siswanya banyak yang tidak lulus, maka sekolah akan tercoreng namanya dan pasti akan dipanggil ke diknas untuk dimarahi.
Dari semua alasan di atas, banyak siswa, guru maupun sekolah yang terpaksa berbuat curang. Kecurangan ini terpaksa mereka lakukan karena begitu beratnya sangsi ketika mereka gagal menghadapi UN. Kita sebagai orang yang mungkin bukan bekerja di dunia pendidikan tidak bisa menyalahkan keadaan ini dengan seenaknya. Jika para pembaca bekerja di dunia pendidikan, maka pasti akan paham kenapa semua ini terjadi.
Sistem pendidikan di Indonesia memang masih perlu banyak perbaikan. Namun perbaikan itu seharusnya tidak menjadikan siswa stress dan terbebani, tapi malah menjadikan siswa lebih pandai dan kreatif.
Catatan dafhy; semoga siswa, guru dan sekolahan siap menghadapi UN besok hari. Dan semoga tahun depan sistem ini bisa lebih baik lagi dari pada tahun ini. Amin




April 17th, 2011
admin
Posted in
Tags: 


AMien semoga lancar ya mas.. Memang UN ini masih menjadi PR utk instansi terkait akan manfaatnya… Di lain sisi ingin menigkatkan standar mutu pendidikan nasional, sisi lain malah memupuskan masa depan anak… Mungkin perubahannya bisa dimulai dari sekolah sendiri dalam proses perekrutan siswa baru tidak hanya melihat nilai UN saja, tapi juga dilihat perkembangan rapor tiap semesternya.. Yang terpenting juga asepek afektifnya…
[Reply]
admin Reply:
April 17th, 2011 at 3:44 pm
@dHaNy, saya yang bekerja di dunia pendidikan aja stress mas mikirin ini. pengen banget keluar karena beban ini. segalanya serba salah. jujur salah, gak jujur juga salah. semoga tahun depan bisa lebih baik mas sistem kelulusan ini. amin
[Reply]
dHaNy Reply:
April 17th, 2011 at 4:02 pm
@admin, Mas Dafhy kerja di sekolah mana? Sebentar lagi saya juga bakal memikul gelar sarjana pendidikan.. Kalau boleh tanya SMK di Ponorogo yang ada jurusan elektronikanya SMK mana ya mas?
[Reply]
admin Reply:
April 17th, 2011 at 4:57 pm
@dHaNy, saya di SD Islam di purwantoro mas. kalau SMK banyak mas. tinggal pilih. nanti saya listkan mas
Siip saya tunggu mas, soalnya belum tentu SMK ada jurusan elektronikanya…
[Reply]
admin Reply:
April 18th, 2011 at 12:20 am
@dHaNy, ok mas nanti saya carikan
[Reply]
semoga lancar dan bebas dari segala kecurangan amin,,
[Reply]
Riffrizz Reply:
April 20th, 2011 at 12:35 pm
@rezaprama, yang lancarnya amin, yang bebas dari segala kecurangan nggak amin
[Reply]
rezaprama Reply:
April 20th, 2011 at 1:42 pm
@Riffrizz, curhat dari pelaku koyok.e,,
hehehe
[Reply]
Hari ini saya lalui dengan lumayan baik
[Reply]
alief Reply:
April 18th, 2011 at 4:30 am
@Jidat, dan hari ni aku lalui dengan berbaring di tempat tidur, dengan idung yang mampet dat. tolong golekno linggis po o?
[Reply]
sebenernya, yang jadi masalah bukan UN nya, melainkan standart dan materi yang sama. Sementara standart pendidikan dan materi yang diberikan untuk menempuh UN ini berbeda di tiap daerah, walau katanya sudah ada garis-garis pokok materi yang wajib diberikan
[Reply]
yang stress bisa hubungi saya, ayo game bareng2
[Reply]
untunge jamanku ra koyok ngene ujiane…#bersyukur
[Reply]
saya cuma bia mendoakan gan,agar kawan-kawan kita yang kelas tiga LULUS dengan nilai yang memuaskan
[Reply]
HOREEEEEEEEEE AKU LULUS MBOOKKKK :))
[Reply]
sistemnya memang belum ada yang pas mas, jadi ya korban para siswa hal yang ‘wajar’ bagi pemerintah, karena melihat dari prosentase kegagalan yang jarang melewati angka 10%, kita hanya bisa memberikan yang terbaik bagi murid, adek2 kelas saya ya diajari agar lebih paham materi UN. hehe,
[Reply]
UN jadi penenu elulusan, bermasalah.
UN ga jadi penentu, bermasalah juga, terutama pada idealisme guru dalam hal pendidikan dan penilaian
[Reply]
Sekedar blogwalking om..
[Reply]
yupss, serba salah..maju kena mundur kena, apalagi ditengah tengah malah kelindas habis..eheheh. sepertinya perlu diadakan revolusi besar-besaran di semua lini, terutama pada moral dan pendidikan.
[Reply]
uan menurut saya memang bermanfaat untuk memacu siswa untuk bekerja keras, tetapi yang terjadi malah adalah kecurangan,seharusnya pendidikan tidak bertumpu pada kemampuan IQ karena kemampuan otak manusia itu sangat terbatas, bahkan dengan iq yang tinggi pun belum tentu ia dapat berkarya, pada sekarang ini menurut saya yang dibutuhkan siswa yang pintar,tetapi yang mampu berkarya, karena kalau memang pintar itu suatu keberhasilan, bagaiman anda bisa menjelaskan tentang sejarah thomas alpha edison, orang yang bodoh hingga dikeluarkan dari sekolah menjadi penemu produktif sepanjang masa,
[Reply]
akhirnya udah lulus kan ? btw ngelanjutin dmn ?
[Reply]