Larisnya Black Campaign Berbau Sara

Tak terasa sudah menginjak bulan Maret ya. Semuanya sudah tahu dong kalau dalam hitungan hari lagi hajatan akbar seluruh masyarakat Indonesia akan dimulai? Ya, sesuai jadwal pemilu legislatif akan segera di mulai. Setelah pemilu legislatif untuk memilih anggota DPR baik dari pusat hingga kabupaten, gantian kita akan memilih calon pemimpin bangsa untuk 5 tahun ke depan.

Berbagai cara sudah dilakukan mereka yang mau maju ke kursi panas DPR. Bahkan yang masih lumayan jauh pemilihannya saja yaitu presiden, sudah banyak tuh yang mulai berkampanye. Sebut saja pak Jokowi yang akhirnya siap diajukan sebagai presiden dari partai PDIP. Ada Abu Rizal Bakrie dari partai Golgar, lalu ada Prabowo dari partai Gerindra. Pasangan Wiranto dan Hari Tanoe Soedibyo dari partai Hanura dan beberapa calon presiden lainnya. Iklan mereka sudah banyak bertebaran di televisi, internet ataupun media cetak. Dari media massa itu mereka berlomba-lomba menonjolkan diri agar masyarakat mengenali mereka dan mau mendukung untuk menjadi presiden.Larisnya Black Campaign Berbau Sara

Sayangnya di tengah-tengah kampanye seperti sekarang, ada saja masalah yang muncul untuk menjegal salah satu kandidat. Dan sayangnya lagi, isu berbau SARA menjadi senjata utama. Ah, entahlah kenapa isu yang menyangkut agama dan orang-orang yang mendukung mereka di belakang menjadi isu yang sangat mudah membesar. Calon ini dibekingi oleh perkumpulan agama tertentu paling banyak menjadi bahan serangan. Sayangnya masih banyak sekali yang menelan informasi itu mentah-mentah tanpa ada cross check terlebih dahulu. Akibatnya ya isu ini menjadi perbincangan hangat dan terus membesar. Pembuat isu tentunya senang dong dengan fenomena itu. Tak dipungkiri masih banyak rakyat Indonesia yang mudah termakan isu murahan seperti itu. Apalagi yang melempar isu itu adalah orang-orang besar yang notabene dijadikan panutan masyarakat.

Negara Indonesia sampai kapanpun tidak bisa dijadikan sebagai negara dengan pedoman satu agama. Indonesia dihuni oleh masyarakat dengan 6 agama yang tidak mungkin mereka mau mengalah untuk mengikuti aturan salah satu agama. Maka dari situlah pada waktu perumusan Pancasila, para petinggi negara pada saat itu membuatnya secara general dengan menyebutkan “Ketuhanan yang maha Esa”.

Entah kapan black campaign yang berbau SARA akan hilang dari negeri ini. Aturan dari KPU yang melarang jenis medol kampanye dengan membawa unsur SARA bagai dianggap angin lalu saja. Ada banyak cara untuk menjegal lawan dan paling ampuh adalah dengan isu yang berbau SARA. Kalau masyarakat masih mudah termakan isu seperti itu, kapan negeri ini akan bisa bangkit? Yang terpenting adalah calon pemimpin yang benar-benar memegang janji dan melaksanakan amanat dengan baik. Buat apa pemimpin yang dari luar terlihat taat beragama tapi ternyata di belakangnya hancur? “Don’t judge the book from it’s cover”.

Jadi mari kita bisa semakin cerdas untuk mencerna isu yang tersebar. Cari tahu kebenarannya dulu dan jangan mudah untuk percaya lalu menyebarkannya ke orang lain. Dengan begitu kita tidak akan tertipu akan muslihat dari mereka yang berkedok sok membela rakyat dengan jubah kebesaran, padahal di balik itu sifat mereka sangat hancur.

Related Posts

Leave a Reply