Peraturan Ada untuk dilanggar?

Kebanyakan dari kita pasti pernah mendengar pertanyataan “peraturan ada untuk dilanggar atau untuk ditaati?” Aku sendiri sering mempertanyakan itu ke beberapa orang yang notabene patut untuk menjadi contoh baik bagi masyarakat tapi malah memberikan contoh buruk. Bukannya aku sok keren dan sok patuh aturan dengan aku menulis tulisan ini. Aku sendiri atau kebanyakan orang yang menegur orang melanggar aturan pasti mendapatkan cemoohan yang sama yaitu “sok taat aturan”.Peraturan Ada untuk dilanggar

Menurutku bukannya aturan memang dibuat untuk dipatuhi ya? Adanya aturan kan sebenarnya untuk kebaikan kita bersama baik sekarang maupun ke depannya. Tapi banyak orang yang gak menyadari itu dan lebih memilih melanggarnya. Kayaknya sih aku salam ya menulis tulisan dengan tema seperti ini di mana negeri Indonesia memang dipenuhi oleh masyarakat yang tidak taat aturan. Faktanya sudah banyak kok jadi jangan bilang kalau aku hanya nulis tanpa bukti ya.

Sebenarnya aku menulis postingan ini karena merasa sebal dengan seorang calon legislatif dari kecamatanku dan tim suksesnya beberapa hari yang lalu. Saat itu tepatnya hari Senin, Panwaslu Kecamatan Kismantoro mengadakan sweeping untuk mencopot pamflet caleg yang melanggar aturan. Pamflet yang melanggar aturan itu ya memasangnya di pohon dengan memakunya secara langsung ataupun mengikatnya ke pohon. Nah, beberapa pamflet caleg memang melanggar aturan itu.

Masalahnya terjadi saat bapak dan ibu Panwaslu mencopoti pamflet yang melanggar tersebut. Entah datang dari mana, ada beberapa tim sukses yang tidak terima dengan pencopotan itu dan meminta kembali pamflet yang sudah dimasukkan ke mobil. Aku yang kebetulan lewat hanya ketawa aja lihatnya. Ini orang kok aneh ya, udah melanggar kok marah-marah pamfletnya diturunin. Ternyata mereka gak berani koar-koar di depan panwaslu lho.

Nah, aku ketemu mereka lagi waktu di sebuah kedai es degan beberapa meter dari jalan tempat eksekusi pamflet tadi. Di situ mereka meluapkan semua emosinya. Dia bilang begini, “peraturan yang buat manusia aja lho kenapa harus ditaati, dasar panwaslu an**ng.” Dengar ucapan mereka aku kaget juga, calon wakil rakyat kok emosian begini, gimana kalau udah jadi wakil rakyat di gedung yang sejuk dan dingin itu ya? Dengan PD-nya aku tanya ke mereka, “pak peraturan negara itu kan yang bikin undang-undangnya anggota DPR, nah bapak kan calon anggota DPR masa belum jadi aja udah melanggar aturan itu. Kalau jadi kan makin aneh, situ yang bikin aturan situ yang melanggar.”

Dan tahu saudara apa yang aku dapatkan dari mereka? “Kamu itu masih kecil sok ngajari orang tua, sok taat aturan, sok pinter.” Itu yang mereka ucapkan. Beug, aku jadi merinding sendiri nih, kalau calon anggota DPR aja masih gak mau taat aturan gimana ke depannya ya? Kayaknya memang susah ya mengubah permasalahan mendasar ini. Padahal kan enak ya tinggal ngikuti aturan yang berlaku. Negara berkembang kaya Korea Selatan, Singapuran dan lainnya itu bisa bersih dan kehidupannya teratur kan karena penduduknya mau ikuti aturan ya. Jadi aku pengen Indonesia bisa seperti itu, bisa hidup dengan aturan yang membuat semuanya tertib. Terserah ada yang mau bilang apa tapi aku mau membiasakan diri taat aturan. Kalau gak mulai dari diri sendiri siapa lagi? Kalau gak mulai dari sekarang kapan lagi?

Incoming search terms:

  • peraturan ada untuk dilanggar
  • aturan di bikin buat di langgar
  • buat apa ada peraturan kalo dilanggar
  • contoh peraturan di rumah yang harus dilanggar
  • contoh peraturan yang dibuat untuk dilanggar
  • peraturan ada untuk dilaggar

Comment(s) for “Peraturan Ada untuk dilanggar?”

  1. Modalnya banyak, harus terpilih apapun caranya

    • admin

      Tapi kalau mereka tak memberi contoh yang baik kok diriku sangsi yang mbak mereka bisa menang? :D

  2. duh, makin ngeri ya negeri ini. aku masih belum ada bayangan mau milih siapa di pemilu nanti. seperti yang kita tau kebanyakan dari calon2 itu rata2 cari muka pas pemilu aja, malah ada yang datengin rumahku gegara bapak ketua Rt. mungkin diminta biar jadi tim suksesnya -_- sebel bin mangkel kalo udah liat pamflet2 di jalanan merusak pemandangan dana nancepinnya juga di pohon2 pinggir jalan, ada yang malah segede baliho ukuran 3 meteran haha. mungkin buat mereka yang penting nyoba dengan modal koneksi dan uang

    • admin

      Saya juga mbak paling sebel lihat pamflet segede gajah dipaku di pohon. Walaupun paku itu kecil kan berdampak besar dengan kelestarian pohon itu. Golput aja saya (eh tapi jangan ditiru ya) (worship)

  3. Hah, itu calegnya sendiri yang ngomong? Bukan tim suksesnya?

    • admin

      Iya mbak. Setelah aku telusuri profilnya ternyata dia itu dulu bos preman :'(

  4. Melihat gambar dari postingan saja sudah kelihatan nih mau posting apa, hehe..

    Kampanye silahkan saja tapi jangan menjadi sampah visual bagi masyarakat aja sih, hehe..

    • richtea / As long as it displays text always in black font on sufficiently bright background, it could be useful. The graphic designer idiocy of using grey for no other reason but that it looks &#ct10;8u2e„ enrages me no end.Some sites offer versions of their pages for mobile devices; in fact, they are more intelligibleand to be preferred even on desktops.

Leave a Reply