Belajar dari Pemilu

Dua hari yang lalu pesta demokrasi seluruh rakyat Indonesia baru saja dilaksanakan. Alhamdulillah di TPS tempat aku memilih, antusias masyarakat untuk menggunakan suaranya lumayan banyak. Surat suara yang dianggap rusak cuma 5 saja. Penduduk desa yang tidak menggunakan hak suaranya juga tidak terlalu banyak dan semuanya merupakan perantauan yang bekerja di kota-kota besar seperti Surabaya dan Jakarta.

Sebagai pengalaman pertamaku menggunakan hak pilih, aku lumayan antusias mengikuti perkembangannya khususnya di TPS tempat aku memilih. Bahkan ketika proses penghitungan suarapun aku juga datang ke TPS. Aku bukan jadi saksi ataupun sok peduli dengan pelaksanaan pemilu sih. Cuma ingin melihat lebih dekat bagaimana hajatan 5 tahun sekali ini dilaksanakan.

Para saksi mengawal penghitungan surat suara
Para saksi mengawal penghitungan surat suara

Sepulang dari TPS setelah menyaksikan proses penghitungan suara, aku banyak sekali mendapatkan pelajaran. Salah satunya adalah banyaknya orang yang ternyata tidak takut memaksakan kehendak orang lain bahkan dengan ancaman yang tidak masuk akal. Aku ceritain saja ya sekalian, nama dan partainya aku samarkan biar tidak dikira mencemarkan nama baik.

Ceritanya pada saat penghitungan suara, para saksi dan petugas TPS dibuat tercengang dengan jumlah suara sebuah partai. Kenapa semua heran dengan perolehan suaranya? Karena partai itu tidak ada calon legislatif yang kampanye di desaku bahkan di tingkat kecamatan. Usut punya usut ternyata ada beberapa masyarakat yang memilih partai itu disertai dengan ancaman. Lucunya yang mengancam mereka adalah salah satu petugas di kecamatan. Duh padahal dulu aku respect banget dengan beliau. Tapi tahu kelakuannya aku kok jadi gak suka ya.

Mereka yang memilih partai itu diancam oleh bilau tidak akan mendapatkan bantuan PKH. Padahal bantuan itu bagi mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan sangat penting artinya. Dengan uang itu mereka bisa memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya. Sungguh ironis ya, rela mengancam masyarakat lemah demi untuk mendapatkan jumlah pemilih yang banyak. Pelajaran dari sini sih, orang sebaik apapun bisa berubah karena ambisi menguasai (idiot)

Semoga beliau bisa sadar kembali dan bisa mengambil hikmahnya ya.

Related Posts

Leave a Reply