Rasa Empati yang Kini Perlahan Pergi

Kemarin media sosial diramaikan oleh sebaran screenshot seorang pengguna akun Path yang meluapkan emosinya di dalam akun mereka. Membaca kata perkata yang dituliskan seorang wanita cantik ini memang membuat diriku sendiri langsung terhenyak. Langsung terbayang di benakku kalau kakak cantik ini sudah hilang rasa kasih sayangnya. Dari kata-katanya sendiri dia dengan lepasnya mengumbar kemarahan yang mungkin saja tidak hanya satu kali dia alami.

Bagai bola salju yang menggelinding, screenshot begitu cepat menyebar dan banyak pengguna akun sosial seperti twitter, facebook dan path sendiri yang mengecam ucapan kakak cantik ini. Tidak hanya itu saja, beberapa portal berita online seperti Kompas juga memberitakan masalah ini sehingga membuat banyak orang semakin penasaran. Sadar dirinya mendapatkan cemoohan yang bertubi, kakak cantik tadi memberikan sanggahan kenapa dia bisa mengatakan hal itu. Kalimat pembelaannya juga masih banyak yang mengomentari negative.

Menurut aku sebagai orang awam dan tinggal di pedesaan yang tidak pernah berdesak-desakan ketika naik kereta ataupun bus TransJakarta, apa yang dikatakan kakak cantik ini sudah keterlaluan. Dia sudah hilang rasa empatinya yang sejak dulu sudah mendarah daging dari nenek moyang kita. Tapi sebenarnya masalah seperti ini sudah bukan hal baru lagi. Kalimat anjuran untuk mendahulukan anak-anak, ibu hamil, orang tua dan orang berkebutuhan khusus yang terpampang jelas di kereta maupun moda transportasi lainnya hanyalah menjadi pajangan belaka.

Tidak perlu menyalahkan orang lain, cobalah instrospeksi kepada diri sendiri apakah kita masih memiliki rasa empati atau tidak. Perkembangan zaman yang terus terjadi, sedikit banyak telah mengubah manusia menjadi sosok yang individualistis. Mereka tidak peduli kepada sesama dan lebih mementingkan diri sendiri. Tak peduli orang lain akan menderita atau bahkan mati, yang terpenting dia bisa bahagia.

Rasa empati perlahan memang sudah pergi dari diri kita. Dengan adanya masalah ini, mari kita ambil sisi positifnya sebagai jalan untuk introspeksi diri sendiri apakah ego masih mengalahkan rasa empati kepada orang yang lebih memerlukan. Mari bersama-sama mengembalikan rasa empati sehingga membuat kita diakui sebagai penduduk negara yang ramah kepada siapa saja. Tidak ada gunanya menghujat pemilik akun path kalau diri sendiri tanpa sadar masih melakukan hal itu. Kalau para pembaca yang budiman masih memiliki empati dan tidak pernah mengedepankan ego meskipun rasa lelah melanda, silahkan kritik kakak cantik itu. Tapi kalau diri sendiri tanpa disadari masih melakukan hal yang kakak cantik itu lakukan, alangkah lebih baik ikut introspeksi diri sendiri.

Semoga dengan adanya masalah ini dapat menyadarkan kita semua akan sesuatu yang perlahan mulai hilang, yaitu rasa empati. (worship)

Incoming search terms:

  • pergi perlahan
  • dan semua rasa itu udah hilang perlahan

Comment(s) for “Rasa Empati yang Kini Perlahan Pergi”

  1. Dan sekali lagi dunia maya membuktikan kekejaman tanpa ampun ketika semua orang mem-bully-nya. Ngeri. Jempolmu harimaumu. :-D

    • dafhy

      Iya mas. Pengaruh sosial media itu besar banget ya. Salah tulis bisa di-bully habis-habisan :D

  2. Iya nih, sempat baca lewat screenshot yang di share di Path.
    Parah banget tu orang, kayak gak manusiawi aja.
    Ya moga2 besok kalo hamil dianya gak kenapa2 aja deh pas di kereta :D

    • dafhy

      Kita doakan semoga dia bisa diberi hati nurani lagi mas. Atau mungkin pas dia hamil baru merasakan bagaimana susahnya kondisi seperti itu :-)

    • This is my first holiday season sans ma grand-mere. This post deeply touched me, as it did the others here. She, too, came from simple beginnings, and lived perfectly streamlined throughout her 90 years. Never drove a car a day in her life Cherish them both forever, they are darling, especially tomi!hertSenceregent,Flora

Leave a Reply