Kopdar di Bukit Bintang

Bagi yang tinggal di daerah Yogyakarta, nama Bukit Bintang sudah bukan tempat baru yang belum dikunjungi. Nama tempat ini sudah tenar sejak lama dan entah kapan mulai dijadikan tempat untuk nongkrong. Barang kali teman dari Yogya bisa memberitahu aku kapan tempat itu mulai dikenal. Satu minggu yang lalu, aku bareng teman-teman blogger Warok berkesempatan untuk kopdar di sana. Kopdar ini adalah kopdar paling jauh lho yang pernah kita lakukan.

Acara kopdar ini tidak terencana sama sekali. Minggu lalu kita berkesempatan untuk bertandang ke kota yang dikenal dengan makanan Gudeg ini. Setelah seharian berada di kota yang ramah ini, perjalanan pulang kita tempuh melalui jalur Wonosari-Wonogiri. Di tengah perjalanan teman-teman sudah merasa lapar dan terbersitlah Bukit Bintang sebagai tempat untuk makan dan melepas lelah sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke kampung halaman.

Tepat ketika adzan magrib berkumandang, kita sampai di Bukit Bintang. Aku yang baru pertama kali ke tempat ini ternyata salah persepsi. Dulu aku kira tempat ini adalah sebuah bukit dengan tanah yang dilapisi rumput. Ternyata setelah sampai di sana aku baru tahu kalau tempatnya berada di pinggir jalan raya. Tanah yang dilapisi rumput dalam khalayanku ternyata dalam wujud aslinya adalah rumah makan yang berderet sepanjang jalan raya. Dari rumah makan itulah kita bisa menikmati pemandangan kota Yogyakarta dari atas. Lampu yang bertebaran di bawah sana menjadikannya seperti ribuan bintang yang begitu indah. Itulah mengapa tempat ini disebut Bukit Bintang.

Bergaya dulu walau wajah kucel :D
Bergaya dulu walau wajah kucel:D

Wow, it’s amazing! kalimat pertama yang keluar dari mulutku. Langit senja dan dipadu dengan kilauan lampu di bawahnya membuat pemandangan senja ini begitu istimewa. Untuk memanjakan pengunjung, pemilik rumah makan membuat tempat makannya langsung menghadap ke hamparan kilauan lampu di bawah sana. Tapi aku sedikit parno melihat bangunan berdiri di area perbukitan. Tapi rasa parno itu sedikit terobati dengan pemandangan indah di depan mata.

Tujuan utama ke sini adalah makan, jadi ketika pelayan datang kita langsung memilih menu makanan. Nasi bakar menjadi pilihan menu makan malam ala kopdar istimewa ini. Sambil menunggu pesanan datang, kawan-kawan ada yang mulai mengabadikan pemandangan dan sebagian lagi melaksanakan sholat Magrib. Pesanan datang sekitar 30 menit kemudian. Maklum saja kalau lumayan lama datangnya pesanan karena ramainya tempat ini.  Penasaran gimana menu makan malam ini? Aku sertakan gambarannya di bawah ini ya.

Nasi bakar plus ayam bakarnya. Hmm it's so delicious
Nasi bakar plus ayam bakarnya. Hmm it’s so delicious

Semua langsung khusuk menghabiskan makanan itu. Secara beberapa kawan ada yang tidak makan siang jadi nasi bakar itu habis dalam beberapa menit. Aku yang memiliki kelemahan dalam menilai makanan, nasi bakar ini rasanya enak. Entah itu karena lapar atau benar-benar enak aku tidak paham (rofl)

Setelah perut kenyang dan tenaga sudah pulih, kita langsung meneruskan perjalanan menuju Ponorogo. Eit tapi sebelum menutup tulisan ini, aku mau memberikan informasi beberapa hal mengenai Bukit Bintang. Pertama di rumah makan yang aku tempati itu, pelayanannya tidak memuaskan, malah terkesan galak (angry) Sempat kaget juga sih waktu mengetahuinya, tapi mau bagaimana lagi wong sudah duduk dan memesan makanan. Kedua di situ gak ada kamar mandi, jadi bikin susah aja. Mushola ada dan nyaman untuk dipakai sholat, tapi yang ada hanya tempat wudhu saja dan tidak ada kamar mandi. Pusing-pusing deh ini yang kebelet ingin kencing (idiot) Ada yang punya pengalaman lain di Bukit Bintang? Ada yang mengalami masalah yang sama atau malah menyenangkan ya?

Incoming search terms:

  • cerita ngentot anak sd
  • cerita ngentot sama anak sd

Related Posts

Comment(s) for “Kopdar di Bukit Bintang”

  1. kunjungan pertamax gan :)
    salam kenal

  2. Belum punya pengalaman dengan Bukit Bintang,
    awal baca tak pikir juga ‘bukit’ :D
    tapi nasi dan ayam bakarnya sepertinya menggiurkan,
    *toilet bukannya fasilitas wajib ada bagi sebuah ruma makan ya.

    • dafhy

      Saya juga ketipu mbak hehehe
      Iya mbak gak ada toiletnya, Aku aja sampai bingung lho hehehe

  3. anu mas pengalamanku.. seperti biasa, selalu gak ada dalam frame foto. hufet :(

  4. sekarang malah ga pernah mampir ..
    udah ramai banget jadi kurang nyaman :D

    • dafhy

      Iya mas, terlalu ramai. Selain itu aku ngeri juga duduk berlama-lama di sana. Membayangkan kalau tiang penyangganya rubuh atau tanahnya longsor, aku sudah takut (idiot)

    • takut e klo ada gempa tiba2 mas :(

  5. iiih, kopdar di bukit bintang kok ya ngga kabar kabar to mas :D

    • dafhy

      Mau kasih kabar, tak ada sinyal mas. Entah kenapa di Bukit Bintang hp ku tak ada sinyal untuk membuka internet. Maaf :'(

  6. something about ego and Pogo’s infamous line, “We have met the enemy and he is us” being appropriate here. Read Prd7#fieles&s821s; “The War of Art” for a great example of ego vs. self in the c;eative battle.And, tease you about dating men with leg hair long enough to braid!!! Else how would you know such things?

Leave a Reply