Harapan di Tengah Carut Marut Pendidikan di Indonesia

Ujian Nasional, Kurikulum 2013, dan masalah krusial lainnya di dunia pendidikan Indonesia memang menjadi masalah yang booming akhir-akhir ini. Pro dan kontra mulai bermunculan dari berbagai masalah tersebut. Kurikulum 2013 yang akan diterapkan mulai tahun ajaran baru 2014/2015 menjadi pembuka dari masalah di dunia pendidikan. Kurikulum yang bagi kebanyakan praktisi pendidikan adalah produk yang belum siap, dipaksakan untuk dipakai mulai tahun 2014.

Keputusan penerapan kurikulum 2013 ini tentu saja membuat gejolak khususnya di kalangan para pendidik. “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan saja masih belum membuahkan hasil, kok sudah mau diganti dengan kurikulum baru yang sepertinya dipaksakan,” begitu beberapa guru yang tidak setuju. Untuk membuat guru siap dengan konsep kurikulum ini berbagai pelatihan dilaksanakan. Saya juga berkesempatan mengikuti pelatihan itu, ya meskipun hanya pengganti saja. Dalam pelatihan itu, diskusi berlangsung sedikit alot. Pemateri yang sering menjawab, “saya juga belum punya gambaran mengenai itu” ketika peserta melontarkan pertanyaan, tentunya menimbulkan berbagai dugaan. Kurikulum yang dipaksakan padahal belum matang benar konsepnya adalah ungkapan yang tepat. Entah bagaimana kondisi kurikulum itu sebenarnya.hari kebangkitan nasional

Ujian Nasional yang baru saja selesai dilaksanakan masih saja menjadi persoalan besar. Berbagai perdebatan muncul dari dua kubu, yaitu golongan yang setuju dan tidak dengan adanya Ujian Nasional ini. Tahun ini yang dirasakan pelaksanaan Ujian Nasional paling kacau, langsung membuat banyak orang geram. Mas Bukik langsung mendirikan gerakan #TolakUN yang mengumpulkan berbagai kesaksian baik dari murid, guru, pengawas maupun kepala sekolah. Surat dari Nurmillaty Abadiah, siswa kelas XI dari Surabaya langsung menjadi pembuka bagi surat aduan lainnya. Nurmillaty dalam suratnya memang membuat orang tercengang. Tulisannya yang begitu kritis membuat kita mengerti bahwa ada masalah krusial di balik pelaksanaan Ujian Nasional. Menteri Pendidikan seperti kebakaran jenggot dan menggapnya bukan tulisan seorang anak SMA. Padahal kenyataannya itu adalah tulisan asli anak kelas XI SMA.

Masalah pendidikan di Indonesia tidak hanya berhenti di situ saja. Masih banyak masalah lain yang harus dibenahi. Para pendidik yang belum berkompeten, fasilitas yang kurang mendukung, serta masih belum ada persamaan stara pendidikan di seluruh wilayah Indonesia, menjadi PR bagi instansi terkait. Memang masalah ini tidak bisa selesai dalam satu, dua tahun. Perlu beberapa tahun menyelesaikannya. Jika pemerintah terus konsisten melakukan perubahan, bukan ada kata mustahil jika pendidikan di Indonesia bisa menyamai pendidikan di Finlandia.

Harapan itu belum padam. Harapan itu bahkan mulai menyala kembali, dan harapan itu kini datang dari berbagai lini. Pihak swasta maupun perorangan mulai masuk membenahi masalah pendidikan. Pengajar Muda misalnya, mengajak putra-putri terbaik bangsa untuk menjalankan misi mengajar di pelosok daerah guna meratakan kualitas pendidikan di daerah-daerah terpencil. Ilmu Berbagi, sebuah komunitas yang dengan ikhlas berbagi, baik ilmu maupun materi, mencoba merangkul generasi muda yang tidak beruntung untuk bisa mengenyam pendidikan hingga jenjang tertinggi. Kedua gerakan itu hanyalah contoh kecil dari banyaknya orang yang peduli dengan nasib pendidikan di negeri ini. Harapan itu masih ada dan akan terus ada. Teruslah berusaha dan jangan berharap banyak pada negara. Selamat hari Kebangkitan Nasional kawan (worship)

Foto diambil dari blogkammiumm.files.wordpress.com

Incoming search terms:

  • cerita dewasa ngentot anak kecil

Comment(s) for “Harapan di Tengah Carut Marut Pendidikan di Indonesia”

  1. Selamat hari Kebangkitan Nasional juga Pendidik :)
    kurikulum baru cocoknya anak diajarkan mencari materi pelajaran di perpustakaan, browsing sehat di internet. Saya sebagai orangtua murid anak kelas 4 SD bingung ngelihat buku paket kalau disuruh mengerjakan dirumah. Lha wong harusnya diskusi kelompok, kemudian cari bahan di perpustakaan, sekolah aja belum punya perpustakaan, apalagi internet?
    Semoga pendidikan Indonesia semakin baik.

  2. semoga pendidikan indonesia lebih baik lagi, semoga tidak ada lagi yg “bunuh diri” karena takut tidak lulus UN

  3. entah mengapa jaman sekarang kok banyak yg mengeluhkan tentang UN..
    padahal jaman dulu orang masih pasrah dan tidak lulus atau naik kelas adalah hal yang biasa..
    apapun itu aku masih percaya bahwa indonesia masih ada :))

Leave a Reply