Haruskah Memilih Kredit Tanpa Agunan Bunga Rendah?

Banyak sekali tawaran KTA Bunga Rendah yang menggiurkan untuk mendapatkan fresh money secepatnya. Lembaga keuangan perbankan non perbankan, lembaga non keuangan semuanya berlomba menjual produk dana segar mereka. Semua media dipergunakan, online maupun media konvensional. Bahkan banyak yang memanfaatkan data nomor telefon masyarakat sebagai media atau sarana. Sehingga memunculkan bisnis baru yaitu jual beli data nomor telefon oleh beberapa pihak. Simbiosis mutualisme adalah prinsip mereka.Haruskah Memilih Kredit Tanpa Agunan Bunga Rendah

Masyarakat perkotaan yang cenderung melek informasi tentu tidak akan mudah terprovokasi oleh iklan yang ditawarkan oleh para penjual tersebut. Mereka lebih cenderung menggali informasi sebanyak-banyaknya sebelum menilai sebuah produk dimana akhirnya mereka menjatuhkan pilihan. Namun bagaimana dengan mereka yang tinggal di daerah minim informasi? Tentu inilah yang akan menjadi sasaran empuk. Khususnya bagi lembaga keuangan non perbankan maupun lembaga-lembaga tidak resmi lainnya.

Iming-iming yang diberikan tentunya adalah seputar jaminan atau agunan dan bunga yang harus dibayarkan. Tag line yang mereka berikan kurang lebih sama : butuh dana segar? Cepat cair dan tanpa jaminan/ agunan, Hubungi nomor berikut ! Siapa yang tidak tergiur dengan penawaran tersebut. Bagi sebagian orang, jaminan atau agunan dalam utang piutang adalah sesuatu yang berat. Karena menurut mereka, jaminan itu identik dengan harta benda yang identic pula dengan kekayaan. Sehingga muncul pameo, “kami butuh uang, berarti kan kami bukan orang kaya”

Pada dasarnya jaminan atau agunan mempunyai makna filosofis sebagai sesuatu yang dapat dipergunakan oleh pihak kreditur untuk meyakinkan mereka bahwa utang yang diberikan kepada debitur pasti akan dibayar. Menilik pada arti filosofis diatas, maka agunan tidak melulu berkaitan dengan harta benda. Bahkan debitur atau orang yang berutang itu sendiri dapat menjadi agunan atau jaminan dalam perjanjian pinjam meminjam. Dalam bahasa perbankan, jaminan ini disebut jaminan umum.

Lalu bagaimana dengan kredit tanpa agunan bunga rendah yang ditawarkan? Masak harus ditolak? Kira-kira itu yang menjadi pertanyaan masyarakat. Sebagai gambaran, mari kita simak ulasan berikut. Secara logika, kreditur tentu tidak mau rugi dengan memberikan pinjaman kepada debitur. Maka, tidak heran dalam investasi ada slogan “high risk high return” yang artinya semakin tinggi resiko akan semakin tinggi pula tingkat pengembalian. Artinya dengan tidak adanya jaminan dari debitur, maka kreditur akan menerima resiko yang tinggi. Di satu sisi, ingat bahwa kreditur tentu tidak mau rugi. Hal ini menunjukkan apa? Tentu agar tidak rugi meskipun resiko yang mereka terima tinggi, maka mereka harus menuntut tingkat pengembalian yang tinggi.

Pertanyaannya, siapa yang dituntut untuk memberikan tingkat pengembalian yang tinggi? Bank Indonesia sebagai lembaga penjamin? Atau OJK? Tentu bukan dua-duanya, melainkan siapa? Tentunya adalah para debitur atau pembeli jasa tersebut. Bagaimana kita bisa menyimpulkan bahwa para kreditur ini meminta tingkat pengembalian yang tinggi? Simak ilustrasi berikut ini : Utang sebesar 10 juta, jangka waktu 3 tahun (12 bulan), tingkat suku bunga 1,5% per bulan. Maka perhitungannya:

  1. Setiap bulan anda harus membayar = 1,5% x 10 juta = 150 ribu
  2. Selama 3 tahun berarti bunga yang harus dibayar = 150 ribu x 36 bulan = 5.400.000
  3. Bunga efektif yang dikenakan = 15.400.000 / 10.000.000 = 1,54%

Perhitungan diatas menujukkan meskipun bunga yang ditawarkan adalah 1,5 persen, kenyataannya bunga yang dikenakan adalah 1,54 persen, lebih tinggi bukan? Berkaitan dengan agunan, coba perhatikan bunga efektif 0,04% lebih tinggi tersebut, menandakan itulah agunan atau jaminan yang diminta oleh kreditur atas utang yang mereka salurkan.

Incoming search terms:

  • Cerita ngewe anak kecil
  • anak kecil ngentot sama ibu video
  • anak kecil ngenyot sama ibunya

Leave a Reply