Belajar dari Kasus Ibu digugat Anaknya 1 M

Minggu ini, masyarakat dikejutkan dengan kasus ibu yang digugat anaknya dengan nominal 1 milyar rupiah ke pengadilan negeri. Saya di sini tidak akan menceritakan lagi bagaimana kejadiannya karena sudah banyak ditulis oleh media online, media cetak dan stasuin televisi. Sudah bisa ditebak bagaimana reaksi masyarakat dengan berita ini. Hujatan dan cacian memenuhi berita dan juga status yang di-share di media sosial. Cacian dengan kata-kata yang sopan hingga yang kasar dapat ditemukan dengan mudah di situs berita online ataupun di mana masalah ini dibahas.

“Untuk membuat anak menjadi pejabat, menjadi pedagang ataupun menjadi orang yang kaya raya itu mudah dilakukan, tapi mendidik anak agar menjadi anak yang berbudi luhur, berakhlak mulia, dan berbakti pada orang tua itu tidak mudah”.

Tidak hanya di dunia maya, di dunia nyata kasus ini juga menjadi perbincangan hangat. Teman-teman sekantor pun juga pada awal kemunculan berita ini begitu serius membahas masalah tersebut. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia pembangun moral generasi muda, masalah tersebut memang menjadi bahan diskusi yang menarik. Hingga akhirnya teman-teman menyimpulkan bahwa “Untuk membuat anak menjadi pejabat, menjadi pedagang ataupun menjadi orang yang kaya raya itu mudah dilakukan, tapi mendidik anak agar menjadi anak yang berbudi luhur, berakhlak mulia, dan berbakti pada orang tua itu tidak mudah”.

?

Kasus gugatan anak kepada ibunya inilah contohnya. Sebenarnya tidak perlu jauh-jauh melihat kasus ibu digugat anaknya karena masalah lahan itu. Saya mengamati lingkungan di sekitar, ternyata tidak sedikit tetangga saya yang juga melakukan hal yang sama. Bukan sama dalam hal menggugat orang tuanya, tapi sama dalam memperlakukan orang tuanya. Sebut saja ibu Mawar (nama disamarkan) tetangga saya yang merawat ibunya yang sudah tua renta dengan tidak manusiawi. Ibu yang sudah tidak bisa berjalan dengan baik ini tidak dia rawat dengan baik. Menyiapkan makanan dan minuman untuk ibunya saja tidak mau. Kalau sang ibu masih bisa berjalan sih, ibunya pasti tidak akan meminta belas kasihan anaknya.

Beda lagi dengan Ibu Melati, bapak Elang dan mbak Bunga (semua nama disamarkan) yang membiarkan ibunya yang tua dan sudah tidak bisa berjalan hidup sendirian di rumah. Sedangkan mereka tinggal di kota dan tidak ada yang mau mengalah untuk pulang ataupun membawa sang ibu ke rumah mereka di kota. Sang ibu hanya hidup dengan dibantu oleh para tetangga yang merawatnya setiap hari. Lebih parahnya, mereka tidak ada yang mengirimi uang untuk sang ibu, sehingga ibunya hanya hidup dari bantuan para tetangga. Ketika ibunya meninggalpun anak-anaknya seperti enggan untuk pulang. Ibu itu meninggal dunia menjelang waktu magrib, dan ketika anaknya diberi kabar mereka mengatakan akan pulang besok pagi. Betapa kagetnya para tetangga mendengarnya. Dengan kesepakatan bersama, ibu yang malang ini dikebumikan malam itu juga tanpa menunggu anak-anaknya yang seperti tidak merasa sedih ditinggal sang ibu.

Belajar dari Kasus Ibu digugat Anaknya 1 M

Itu sedikit contoh nyata dari tetangga saya yang memperlakukan ibunya dengan tidak manusiawi. Padahal ibu adalah orang yang kasih sayangnya tak terhingga. Dialah yang berjuang melahirkan kita dan merawat hingga kita besar. Ibu rela dia kelaparan asalkan sang anak bisa tidur karena perutnya kenyang. Ibu rela menderita dengan bekerja keras asalkan anaknya bisa hidup berkecukupan. Lalu setelah mereka (ibu/ayah) tidak berdaya lagi karena usia senjanya, kita lupa dengan semua kebaikan mereka?

Memang orang tua seperti anak-anak kembali. Kemampuan fisiknya menurun drastis sehingga tidak bisa melakukan semua hal sendiri. Perlu bantuan sang anak untuk melakukannya. Kadang mereka juga rewel dan juga menjengkelkan. Tapi ingatkah kita ketika kecil kita juga pernah melakukan hal-hal ini? Semuanya dilakukan oleh ibu dan kita juga sering merengek manja kalau kita sedang meminta sesuatu. Ketika kita kecil ibu pasti akan melakukan apapun untuk kita. Lalu kenapa setelah mereka tua dan melakukan hal yang pernah kita lakukan ke mereka kita jadi sewot dan marah-marah. Apakah ibu dulu pernah marah-marah ketika menyuapi dan mencuci baju kita?

Ingatlah apa yang kita tanam itulah yang akan kita petik. Kita nanti akan menua dan mengalami penurunan fungsi tubuh. Kalau kita kasar dan tidak mau merawat orang tua dengan baik, bisa jadi anak-anak kita kelak akan melakukan hal itu juga ke kita. Kalau sudah begitu, hanya penyesalanlah yang akan kita rasakan.

Incoming search terms:

  • vidio anak kecil ngentot
  • vidio ngentot anak

Leave a Reply