Birunya Langit di Musim Kemarau

Birunya langit di siang hari dan berubah keemasan ketika senja tiba adalah dua pemandangan selalu membuat saya jatuh cinta. Saya yang sudah sejak SMP hingga 11 tahun setelahnya harus tinggal di kota orang, memang sangat jarang dapat melihat keindahan pemandangan ini dari tempat favorit saya yaitu sawah. Meskipun masih banyak sawah di kota tempat saya menghabiskan masa ABG saya, tapi entah kenapa tidak membuat saya tertarik untuk datang ke sana.

Kini sudah satu tahun saya kembali tinggal di rumah. Rumah ibu dan almarhum ayah ini memang berada di pelosok desa. Akses jalannya masih ada yang berbatu meskipun sudah mulai diganti dengan cor semen. Sawah yang luas menjadi pemandangan pertama ketika membuka pintu rumah karena di depan saya memang terbentang luas sawah yang ketika musim penghujan akan berwarna hijau dengan tanaman padinya.

Kondisi ini akan berubah 180 derajat ketika musim kemarau tiba, tanah yang gersang dengan tanah yang terpecah-pecah menggantikan pemandangan hijau yang menyegarkan mata. Sawah di depan rumah memang tipe sawah tadah udan di mana hanya mengandalkan air hujan sebagai pengairannya. Sumber air yang cukup dalam serta jauhnya dari sumber air di pegunungan memaksa petani untuk tidak menanam apapun di musim kemarau.

Kondisi ini memang menyedihkan, tapi di sisi lain ketika kemarau tiba ada rasa suka yang saya rasakan. Ketika kemarau tiba, saya dapat menikmati indahnya warna biru langit di siang hari dan pemandangan menakjubkan ketika matahari mulai beranjak ke peraduannya. Dua pemadangan ini sangat sulit saya nikmati ketika musim penghujan mulai tiba karena hujan akan mengguyur desa hampir setiap hari. Mendung yang menggelayut di langit membuat dua pemandangan indah itu sulit untuk dinikmati.

Pemandangan indah itu sering kali saya abadikan dari balik lensa kamera ataupun ponsel jadul saya. Pemandangan itu sangat sayang kalau tidak saya abadikan karena mungkin bisa menjadi barang langka jika saya harus kembali ke kota. Foto-foto itu hanya saya simpan di komputer dan sesekali saja upload ke Instagram ataupun Facebook. Belum pernah saya memajangnya di blog ini. Jadi untuk pertama kalinya dan untuk menyambut tantangan dari bu guru kecil  cantik yang sedang menyelanggarakan Turnamen Foto Perjalanan ronde 50, maka saya pajang foto keindahan langit siang hari di depan rumah saya di blog ini. Apa itu Turnamen Foto Perjalanan yang lebih dikenal dengan singkatan TFP ini? TFP adalah sebuah turnamen foto yang boleh diikuti oleh siapa saja. Mau blogger ataupun pengguna media sosial boleh mengikutinya. Karena tema ronde ke-50 ini ada kemarau, maka saya mengikutkan foto indahnya langit di musim kemarau ini.

Birunya langit membuat sawah yang gersang tak menyakitkan lagi
Birunya langit membuat sawah yang gersang tak menyakitkan lagi

Comment(s) for “Birunya Langit di Musim Kemarau”

  1. subhanallah itu keren banget sih langitnya…

    makasih sudah menjawab tantangankuuu ^_^

  2. meskipun berawan, langitnya sungguh cantik

Leave a Reply