Grebeg Suro 2016: Ketika Budaya Bertemu Dunia Maya

penutup-grebeg-suro-2016
Pembukaan Grebeg Suro 2016 (dok pribadi)

Ponorogo adalah rindu. Rindu dari berbagai event yang ada, oleh mereka yang harus bekerja nun jauh di sana.  Tidak dipungkiri lagi, Ponorogo merupakan salah satu kota yang penduduknya banyak menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Lima hingga puluhan tahun waktu yang mereka habiskan jauh di negeri seberang untuk mengangkat perekonomian keluarga.

Lima tahun, bukan waktu yang sebentar bagi mereka meninggalkan keluarga dan kampung halaman. Ada banyak hal yang mereka lewatkan. Rasa rindu akan kampung halaman, lezatnya makanan, hingga suasana di kampung halaman membuat sesak di dada.

Beruntung kini komunikasi mereka dengan keluarga semakin mudah dengan adanya internet. Dulu, sebelum dunia maya tak sedekat kehidupan kita, komunikasi menjadi hambatan besar bagi mereka. Tidak heran ada beberapa kasus keluarga yang hilang kontak dengan mereka karena putusnya komunikasi.

Dunia maya, menjadikan yang jauh semakin dekat. Hongkong-Indonesia, hanya berjarak antara jempol dan tombol call. Hadirnya layanan internet tidak terbatas pada kelancaran komunikasi saja. Banyak sekali manfaat yang dirasakan masyarakat luas, khususnya mereka yang menjadi Buruh Migran (sebutan yang diperjuangkan untuk mengubah image TKI di mata masyarakat).

Grebeg Suro 2016: Ketika Rindu Sedikit Terobati

Gelaran Grebeg Suro 2016, menjadi bukti teknologi membuat jarak tak lagi bermakna. Mereka yang sudah bekerja 5 atau bahkan puluhan tahun, akhirnya bisa menikmati suasana Grebeg Suro dari gadget-nya. Ya, tahun ini ada yang istimewa dari gelaran Grebeg Suro 2016 dan Festival Nasional Reyog Ponorogo. Mereka yang tidak bisa pulang tapi tidak ingin melewatkan event Grebeg Suro, bisa menontonnya langsung dari gadget yang mereka miliki.

Seperti oase di padang pasir, terobosan ini menjadi kabar gembira bagi mereka. Manfaat teknologi, mendekatkan yang jauh, membuat mereka bisa menikmati rangkaian acara Grebeg Suro tanpa perlu pulang ke kampung halaman. Setiap malam selama 7 malam berturut-turut, kami coba obati kangen mereka dengan suasana Grebeg Suro. Berbekal kamera 360o, koneksi internet, serta laptop kami siarkan secara langsung Festival Nasional Reyog Ponorogo melalui saluran Youtube dan Facebook.

Luapan kegembiaraan terucap dari berbagai komentar yang kami dapat baik dari channel Youtube maupun beranda Facebook. Mereka merasa seperti berada di aloon aloon Ponorogo dan menyaksikan betapa meriahnya berbagai acara Grebeg Suro.

Jerih payah ini bagi sebagian orang, mungkin tidak berdampak apapun. Tapi tenaga dan pikiran yang terkuras, terbayar sudah dengan senyum, tawa bahkan air mata dari kawan-kawan yang terpaksa harus bekerja jauh di sana.

 

Live streaming yang kami lakukan ini tentunya sangat terbantu dengan koneksi yang tersedia. Tanpa koneksi yang mumpuni serta kuota yang melimpah, mustahil live streaming akan lancar. beruntung koneksi yang tersedia sangat membantu, meskipun beberapa kali harus terputus karena koneksi yang kurang stabil.

Berbicara mengenai kecepatan dan kestabilan koneksi internet, masih ada jurang yang dalam. Satu daerah ke daerah yang lain, bahkan satu desa ke desa yang lain masih ada perbedaan kecepatan dan kestabilan koneksi. Belum lagi masalah harga yang masih sangat mahal.

71 tahun Indonesia merdeka. Besar harapan ke depan para penyedia jasa telekomunikasi berlomba-lomba melakukan peningkatan kualitas jaringan serta pemerataan di berbagai lokasi. Sehingga tidak terjadi lagi perbedaan kualitas dan harga paket koneksi yang masih belum terjawab hingga saat ini.

Related Posts

Comment(s) for “Grebeg Suro 2016: Ketika Budaya Bertemu Dunia Maya”

  1. krinsports

    Someday, we’ll run into each other again, I know it.
    Maybe I’ll be older and smarter and just plain better. If that happens,
    that’s when I’ll deserve you. But now, at this moment, you can’t hook
    your boat to mine, because I’m liable to sink us both. KrinSports

Leave a Reply