Belajar bersama Sahabat Keluarga

Foto: Ardian Kusuma

Menulis itu, membaca 2x, 3x, dst. Tidak ada proses menulis tanpa membaca – Gol A Gong

Gol A Gong, bagi penikmat novel pasti sudah tidak asing dengan nama ini. Novel-novelnya lah yang dulu menemani hari-hari saya menghabiskan waktu libur di pesantren. Hanya bukulah yang menjadi hiburan di masa pendidikan itu karena tidak ada hp, tv, maupun radio di sana.  

Sudah sering membaca bukunya, ternyata baru di 2014 saya dipertemukan dengan beliau di sebuah acara seminar menulis di Magetan, Jawa Timur. Mendengar ceritanya selalu membangkitkan semangat saya. Bagaimana beliau berjuang untuk menggapai mimpi-mimpinya selalu menjadi motivasi saya menggapai mimpi.

Di penghujung 2018, alhamdulillah dipertemukan lagi dengan kang Gol A Gong di acara Workshop Content Creator bersama Sahabat Keluarga Kemndikbud yang bertempat di Yogyakarta. Sesuai dengan bidangnya, beliau mengisi kelas menulis untuk teman-teman blogger.

games dulu sebelum materi (Foto: Fuji Rahman N)

Blogger kok diajari menulis?

Meskipun blogger itu kerjaannya menulis, tapi masih ada kok yang tulisannya belum enak dibaca, saya contohnya. Jadi kelas menulis ini sangat saya sukai karena kekurangan saya. Di kesempatan kali ini, beliau memberikan materi tentang esai.

Sebelum membahas tentang esai, beliau memberikan solusi mengenai masalah yang sering dihadapi penulis, yaitu ide. Ya, ide seringkali menjadi penghambat kita dalam menulis. Ternyata mendapatkan ide itu sangat mudah. Kita bisa memperhatikan lingkungan sekitar. Lalu temukan apa yang kita risaukan, dan terakhir apa yang akan kita lakukan dengan masalah itu. Jadi coba cermati keluarga, atau lingkungan. Pasti ada ide untuk menjadi bahan tulisan.

Apa itu Esai?

Setelah mendapatkan ide, langkah selanjutnya adalah menuangkannya ke dalam tulisan. Nah, untuk membuat sebuah esai, yuk pahami dulu apa itu esai.

Esai itu ternyata salah satu jenis tulisan jurnalistik lho. Jadi harus ada unsur 5W 1H di dalamnya. Esai merupakan opini dari penulis, jadi sifatnya subyektif. Tapi meskipun opini, harus didukung juga dengan data yang akurat. Jadi tidak menulis hanya sekadar pikiran penulis saja ya. Esai juga harus memberikan solusi dari sebuah masalah. Jadi tidak hanya mengkritik, tapi juga ada solusi yang ditawarkan ya. Tidak seperti kebanyakan tulisan di media social yang hanya mengkritik saja.

Tahapan menulis Esai

Ide sudah ada, pemahaman tentang esai sudah didapat, kini waktunya mengetahui bagaimana langkah membuat esai.

Riset

Esai ditulis berdasarkan fakta

Esai berbeda dengan status nyinyir di media sosial karena adanya riset ini. Jadi ketika sudah ada ide, kita harus melakukan riset terlebih dahulu. Riset bisa kita lakukan dengan terjun ke lapangan langsung. Lakukan pengamatan dan juga mewawancarai narasumber yang dibutuhkan. Kita juga bisa melakukan riset pustaka dengan membaca beberapa sumber seperti buku, majalah, atau mesin pencari.

Menentukan Topik

Sudut pandang sebuah masalah sangatlah banyak. Jadi kita perlu menentukan sudut pandang (topik) dalam menulis esai ini. Setelah itu olah data yang sudah kita miliki ke dalam rumus 5W 1H.

Menulis

Data sudah lengkap, dan sudah terangkum dalam 5W 1H, kini waktunya menuangkannya dalam sebuah tulisan. Kita bisa menggunakan gaya menulis orang pertama dengan tokoh utama “saya” atau “aku”, bisa juga dengan pandangan orang ketiga. Kita bisa menciptakan sebuah karakter fiksi dengan nama untuk sebagai tokohnya. Tokoh karakter Mukidi yang cerita lucunya sudah tersebar itu contohnya tokoh fiksi yang dijadikan pandangan orang ketiga.

Revisi

Sebagai penulis, revisi itu harus dilakukan. Karena itu adalah salah satu tahapan yang harus kita lalui ketika menulis. Dengan revisi, kita dapat memperbaiki tulisan agar menjadi lebih baik. Paling utama adalah menghindari dari kesalahan fatal yang dapat membawa kita ke dalam masalah di belakangnya.

Selesai pembahasan, kita diminta untuk praktek langsung ke Kawasan perbelajaan yang ada di seberang hotel, dengan kelompok yang sudah dibagi di awal acara. Karena mungkin belum terbiasa, untuk mengumpulkan data itu tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi penulis online yang kebanyakan langsung menulis sesuai dengan apa yang kita pikirkan saja.

How to Make a Movie

Mendapatkan materi ini dari M Mas Iqbal dari Film Maker Muslim (YouTube Channel), pertama agak membingungkan saya. Karena jauh dari angan untuk membuat sebuah film. Dalam benak saya, membuat film itu perlu skill yang mumpuni, budget banyak dan alat yang lengkap. Ternyata anggapan itu salah besar. Mereka membuat film pendek Cinta Subuh hanya dengan budget 200 ribu saja dan dengan peralatan seadanya.

Mas Iqbal memberi materi membuat video (Foto: Fuji Rahman N )

Setelah mendapatkan sedikit penjelasan, kita langsung dibagi ke dalam beberapa kelompok. Kelompok-kelompok ini, diminta untuk membuat sebuah video pendek tanpa ada tema yang mengingat. Sebelumnya kita diberi waktu untuk berdiskusi tema apa yang akan dituangkan ke video ini. Berbeba dengan penulisan esai yang berlangsung di hotel, pembuatan video ini dilakukan di bukit Breksi.

Emak2 Blogger beraksi membuat video (Foto: Fuji Rahman N )

Dengan hanya memanfaatkan alat yang ada (gadget), kita mulai mengambil beberapa video. Ada yang mengambil gambar pemandangan di Breksi, ada juga yang merekam semua personil dengan tema yang sudah ditentukan. Setelah pengambilan gambar, kita diberi waktu untuk mengeditnya menjadi sebuah video dan akan dipresentasikan esok hari.

Sesuai dengan jadwal, di hari terakhir peserta diminta mempresentasikan video yang sudah dibuat. Sudah ada 7 video yang siap dipresentasikan. Tibalah satu persatu kelompok mempresentasikan apa tema dari video tersebut.

Di materi ini waktu yang singkat dan diskusi yang kurang matang menjadi kendalanya, sehingga video yang tercipta dari kelompok saya masih jauh dari kata sempurna. Tapi kekurangan itu wajar karena bagi teman-teman blogger khususnya saya ilmu ini masih baru.

Setelah presentasi usai, Mas Iqbal memberikan masukan bagaimana sebuah video itu terlihat bagus. Video yang bagus itu harus memiliki konsep yang jelas. Perhatikan juga teknik pengambilan gambar, dan terakhir proses editing harus baik juga.  Memang perlu belajar dan belajar lagi untuk menghasilkan video bagus.

Terakhir, Mas Iqbal menyarankan jika kita ingin membuat film, kita harus tahu siapa sasaran penontonnya, untuk apa dibuat dan apa yang ingin disampaikan dari film ini. Pesan menjadi komponen penting agar video memiliki makna mendalam untuk penontonnya.

Foto bersama sebelum pulang (Foto: Fuji Rahman N )

Ah tak terasa 3 hari 3 malam acara ini berlangsung dengan begitu cepatnya. Banyak sekali materi yang saya terima. Terima kasih atas kesempatannya mendapatkan ilmu, dan berkenalan dengan teman baru. Kini saatnya mempraktekkan ilmu yang didapat untuk menghasilkan tulisan berkelas dan bermafaat untuk semua. Harapannya, semoga acara seperti ini masih ada sesi-sesi selanjutnya.   

Comment(s) for “Belajar bersama Sahabat Keluarga”

  1. Acara yang luar biasa ya. Terbukti bikin susah moveon :D

  2. mantab mas pengalamannya..smg mimpi2nya nanti terwujud

  3. Selepas belajar cara membuat esai, setelah membaca sekali, dua kali, tiga kali dan seterusnya…selamat praktik di dunia nyata pembuatan esai bro

  4. Karena blogger belum tentu bisa menulis dengan baik. Semangat belajar menulis, kak

  5. makasih sharingnya mas, yuk mari sama2 berjuang membuat konten, skrg konten bisa dimonetisasi soalnya

  6. Kang Gol A Gong emang inspiratif banget ya mas.

    • dafhy

      Banget mbak. Semangatnya untuk bangkit itu yang keren banget

  7. Acaranya emang seru banget sih. Nggak terasa kalau udah menghabiskan 3 hari di Yogya

    • dafhy

      Pas mau berangkat, kayae berat banget ninggal anak mbak. Eh la pas acara kok cepet banget waktunya. Gak terasa udah selesai aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.